Nama  : Evi Yulastri Indriana
NIM    : 09220336
Kelas   : D

 

Dampak Sosial dan Kultural (Positif dan Negative) dari Teknologi Komunikasi

 

  1. Dampak Positif
  • Teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi bagian utama penentu gerak peradaban umat manusia.
  • Dengan teknologi informasi dan komunikasi semua proses kerja dan konten akan ditransformasikan dari fisik dan statis menjadi digital, mobile, virtual dan personal. Akibatnya kecepatan kinerja bisnis meningkat dengan cepat. Kecepatan proses meningkat sangat tajam di banyak aktivitas modern manusia.
  • Masyarakat pengguna jasa telekomunikasi sudah tidak lagi mengharapkan jasa telekomunikasi hanya sebagai sarana penghubung suatu lokasi dengan Iokasi Iainnya yang berjarak cukup jauh untuk berkomunikasi atau berbicara.
  • Peran industri komputer, terutama industri perangkat Iunak, sangat menentukan dalam memunculkan Iayanan-Iayanan baru. Sejumlah vendor besar dalam industri perangkat Iunak dewasa ini tengah bersaing dalarn menciptakan dan merebut pasar Iayanan-Iayanan baru berbasis IT. Disamping itu, perusahaan-perusahaan jasa di berbagai sektor tengah bersaing juga untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada para kastememya dengan menerapkan layanan berbasis IT services.
  • Dengan berkembangnya teknologi komunikasi, kesadaran masyarakat akan pentingnya informasi terus meningkat, dan mendorong fungsi jasa telekomunikasi berubah menjadi sarana untuk mendapatkan informasi.
  • Perkembangan internet di dunia telah membawa dampak yang signifikan bagi Industri IT di Indonesia seperti menjamurnya ISP, munculnya software house baik besar maupun kecil dan bermunculannya web commerce yang tidak pemah terbayangkan sebelumnya. meningkatkan produktivitas, memperpendek waktu dan jarak.
  • Orang-orang yang mengakses internet mengadopsi nilai-nilai profesionalisme yang mengutamakan prinsip kepakaran, otoritas, otonomi, autensitas dan integritas. Bukan mustahil pula mereka tidak menyukai lagi solidaritas komunal. Kalau ini yang terjadi, sesungguhnya perubahan sistem nilai itu baik untuk kemajuan masyarakat secara keseluruhan. Artinya, nilai-nilai yang diadopsi adalah nilai yang bermanfaat untuk membangun kebudayaan industrial.
  • Situs pertemanan di dalam internet dengan teknologi komunikasi menjembatani komunikasi antara pihak-pihak yang berada dalam jarak yang begitu jauh bahkan dalam dimensi waktu yang berbeda. Orang-orang yang sebelumnya tidak pernah bertemu sekalipun “didekatkan” oleh facebook dkk ini. Kelancaran dalam berkomunikasi, mendekatkan hubungan antar teman, atau sekedar mencari kenalan, bukan lagi menjadi sebuah masalah karena situs-situs jejaring sosial ini telah menjembatani segalanya. Kebutuhan manusia untuk bergaul dan bersosialisasi, menyalurkan kodratinya sebagai individu zoon politicon serta merasakan kebersamaan dan keakraban dengan pihak-pihak yang menjadi partner interaksinya, seakan telah betul-betul terpenuhi melalui pemanfaatan situs pertemanan ini.
  • Lapangan pekerjaan baru menjadi semakin terbuka, yang berarti angka pengangguran dapat ditekan dan memicu pertumbuhan ekonomi negara.
  • Dalam aplikasi teknologi komunikasi yang dapat menunjang kegiatan kewirausahaan, marketing dan periklanan, kita juga dapat menemukan aspek positif dari kehadiran teknologi komunikasi ini di ranah ekonomi. Adalah advertising In cyberspace, online marketing yang merupakan contoh dari sarana perolehan laba dan pertumbuhan ekonomi yang dapat semakin digalakkan berkat kehadiran teknologi komunikasi.

 

 

 

 

  1. Dampak Negatif
  • Mempercepat terjadinya proses inflitrasi budaya satu ke budaya lainnya secara intensif dan dapat menyebabkan terjadinya penghapusan budaya
  • Dampak tayangan televisi, film, dan penyebaran video porno melalui internet juga menambah terjadinya praktik kekerasan, mistisisme, dan hura-hura ala sinetron.
  • Bahkan jika semua fakultas psikologi di Indonesia mau dengan sukarela meriset kondisi mental siswa-siswi di sekolah, pastilah akan didapati banyak sekali anak usia sekolah yang mengalami depresi dan sakit jiwa.
  • Dalam bahasa seorang sutradara Peter Weir, sebagai toxic culture, sebuah tayangan yang terlalu memamerkan kekerasan dan erotisme sangat tidak mendidik dan dapat menyebabkan kriminalitas di usia muda meningkat, egoisme tambah menjadi-jadi, bahkan juga dapat merusak lingkungan dan budaya sekolah ke arah yang tidak sehat (Bennet: 2000; Gidley: 2000).
  • Internet menyebabkan isolasi sosial (social isolation). Makin lama seorang individu menggunakan internet, makin berkurang kontaknya dengan lingkungan sosial (Suara Pembaruan, 2/9/01).
  • Tingkat ketrgantungan pada orang lain semakin berkurang.
  • Jika diibaratkan sebagai pengembara, maka orang-orang yang mengakses internet akan banyak melakukan perjalanan, banyak melihat dan tentu saja banyak memperoleh informasi. Semua pengalarnan itu, tentu saja akan mengubah pandangan mereka tentang diri mereka sendiri serta nilai dan norma yang selama ini mereka anut. tapi bukan mustahil yang terjadi adalah, orang-orang yang mengakses internet tidak peduli lagi dengan tatanan moral, sistem nilai dan norma yang telah disepakati berpuluh-puluh tahun. Mereka hanyut dalam pengembaraan mereka dan menabrak apa saja yang mereka anggap menghambat tujuan mereka. Mereka merasa tidak peduli lagi dengan segala aturan yang ada. Bila melihat kenyataan di negara-negara maju, kita tentu mengerti bahwa perubahan yang terjadi pada orang-orang yang mengakses internet adalah perubahan moral dan kemanusiaan. Orang tidak peduli lagi dengan moral yangselama ini dijunjung tinggi. Orang juga tidak peduli dengan nilai kemanusiaan orang lain. Sudah begitu, orang lebih percaya pada isu daripada informasi, lebih percaya pada rumor ketimbang kebenaran. Pergeseran nilai yang nampak ekstrim adalah kemudahan pengguna untuk menjelajahi situs-situs porno atau situs-situs cabul yang banyak bertebaran di internet dan bebas sensor karena internet dianggap tidak memiliki aturan dan kejelasan hukum dalam penggunaannya. Selain itu muncul kejahatan menggunakan internet yang disebut dengan “carding” berupa pembobolan kartu kredit milik orang lain. Ini disebabkan karena keamanan dalam internet saat ini masih belum sempurna khususnya berkaitan dengan subscribe pendaftaran diri pada suatu situs.
  • Orang-orang yang mengakses teknologi komunikasi informasi akan meluangkan waktu yang banyak dan biaya yang mahal untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Meski telah terpuaskan oleh informasi yang didapat kecenderungannya orang-orang tersebut akan terus mencari dan mencari informasi memalui internet. Disinilah kondisi penyerahan diri pada teknologi terjadi akibanya Keasyikan dalam menggunakan internet menjadikan semacam kecanduan yang mau tidak mau membawa ke arah pengeluaran keuangan yang lebih.
  • Tanpa disadari perlahan manusia mengalami candu akan friendster, tak dapat berlama-lama meninggalkan facebook serta mengamati tiap-tiap peristiwa terkini yang dikabarkan didalamnya, merasa perlu dan wajib untuk mengupdate status sesering mungkin di twitter serta tak mau ketinggalan untuk mengikuti aktivitas atau sekedar “kicauan” para follower di twitter yang dimilikinya. Ketika frekuensi penggunaan dan tingkat kebutuhan yang terlampau tinggi ini dirasakan benar oleh para penggunanya, hingga mengurangi aktivitas sosialisasi mereka di dunia pergaulan yang sesungguhnya, maka saat itulah teknologi komunikasi ini menjadi isu yang berdampak negatif terhadap pergaulan individu dan masyarakat pada skala yang lebih luas. Banyak orang yang terlalu asyik dengan pertemanan semunya di dunia maya hingga mengabaikan rekanan yang mereka miliki secara nyata yang berada di sekeliling mereka, mereka terlampau sibuk di depan PC mereka, atau tak dapat lepas dari ponsel yang dilengkapi dengan fasilitas internet yang begitu memadai. Akibatnya timbullah fenomena anti sosial dan sikap individualistis dari individu yang tentunya akan berdampak buruk terhadap kehidupan pergaulannya jika dalam jangka waktu yang lama individu tersebut tidak dapat mengelola dan menyeimbangkan intensitas dan frekuensi kedua jenis dimensi pergaulan yang digelutinya ini. Isu pornografi, kekerasan dalam rumah tangga dan terhadap anak-anak juga menjadi hal kontroversial yang merupakan aspek negatif dari penggunaan teknologi komunikasi dalam bidang sosial.
  • Monopoli dan praktik imperialisme yang dilakukan oleh para pemilik modal yang besar, yang notabene begitu berpeluang untuk mendominasi kegiatan manajerial usaha yang dijalankan dengan didukung oleh penguasaan dan penerapan teknologi yang sangat canggih. Hal ini tentunya akan berimbas pada kelangsungan industri kecil atau menengah ke bawah yang belum memiliki spesifikasi pemanfaatan teknologi yang cukup baik untuk dapat berkompetisi dengan kalangan pemegang  kapital yang dominan tersebut.
  • Terjadinya cultural lag atau bahkan cultural shock yang dirasakan oleh sebagian masyarakat yang bersangkutan sebagai akibat ketidaksiapan mereka dalam menyerap dan mengadopsi budaya luar yang sedikit atau benar-benar berbeda dengan budaya lokal yang telah ada dan berkembang sebelumnya. Inilah yang menjadi cikal bakal timbulnya gaya hidup konsumerisme di kalangan masyarakat karena mereka hanya menyerap budaya baru yang masuk itu secara tidak utuh sehingga mereka tidak benar-benar mengetahui esensi dari pergeseran atau perubahan budaya yang mereka ikuti. Contohnya adalah kalangan remaja dewasa ini  yang beberapa di antaranya ikut-ikutan menggunakan ponsel blackberry hanya karena terpengaruh lingkungan pergaulan yang didominasi oleh para pengguna BB tersebut tanpa mengetahui dan memahami secara jelas signifikansi penggunaan gadget tersebut. Parahnya lagi, sikap individualistis, hedonisme bahkan sekularisme yang seakan semakin menjajal pola pikir dan perilaku masyarakat akibat pengaruh dari budaya luar yang jelas-jelas berbeda dengan tradisi budaya yang dimiliki (terlebih bagi masyarakat Asia yang berkonteks budaya tinggi; budaya Timur). Masyarakat seakan semakin diperbudak oleh teknologi yang menyebabkannya lalai dalam bersosialisasi, individu kian tunduk pada trend dunia dan segala sesuatu hal baru yang dipuja-puja masyarakat global, tanpa mengetahui esensinya dan hanya karena dilatarbelakangi perasaan takut terkucil atau tersisih. Menjadi seorang luddite atau bahkan laggard seakan menjadi momok yang benar-benar harus dihindari oleh individu jika tidak ingin disebut ketinggalan zaman atau menyandang predikat sebagai si gagap teknologi. Dan lagi-lagi, hal ini seringkali terjadi tanpa dilatarbelakangi alasan dan kepentingan yang jelas terhadap penggunanaan teknologi sehingga esensi dari pengadopsian budaya baru menjadi terabaikan.
  • Jurang antara pihak yang kaya dan miskin informasi makin besar, privacy jadi terganggu, orang jadi terpencil dari lingkungan sosial, informasi tidak benar disusupkan melalui media interaktif dan batasan-batasan pekerjaan yang lama tidak berlaku lagi.

 

Jadi, dalam menyikapi semakin meluasnya pengaruh teknologi komunikasi di segenap aspek kehidupan manusia, hendaknya kesadaran akan isu, pengaruh positif dan negatif yang diberikan teknologi komunikasi tersebut dapat dimiliki oleh tiap-tiap individu agar mereka mampu menampilkan sikap selektif dengan tetap berpartisipasi aktif menggunakannya dan menghindari dampak negatif sementara memanfaatkan hal-hal positif dari keuntungan yang diberikan teknologi komunikasi ini dalam ranah sosial, ekonomi, budaya dan politik. Intinya, tepat cara, tepat guna dan tepat sasaran merupakan pencapaian yang hendaknya ditargetkan oleh pihak-pihak yang mengadopsi dan memanfaatkan teknologi komunikasi di masa kini dan nanti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Sumber:

http://kpde.bantulkab.go.id/?p=552

 

http://irfanwidyanto.blogspot.com/2007/04/teknologi-informasi-dan-komunikasi.html

 

http://www.dapunta.com/teknologi-informasi-dan-citra-pendidikan.html

 

http://www.dapunta.com/teknologi-informasi-dan-citra-pendidikan.html

 

http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2010/01/konsekuensi-sosial-teknologi-komunikasi.html

 

http://www.waena.org/index.php?option=com_content&task=view&id=4468&Itemid=51

 

 

RANGKUMAN MATERI BAB II

Posted: Januari 9, 2011 in Uncategorized

RANGKUMAN MATERI BAB II

Oleh:

1. Evi Yulastri Indriana (09220336)

2. Indri Dwi Rahmawati (09220370)

3. Ucha Prasya Madjid (09220348)

4. Senna Chandra (09220305)

5. Subur Siswanto (09220291)

6. Firdausyia (09220262)

SEJARAH SINGKAT PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI

Secara umum empat revolusi dalam bidang komunikasi yang dirangkum Bell (1979) sebagai wujud dari gambaran panjang perkembangan komunikasi manusia:

  • Dalam bicara
  • Ditemukannya tulisan
  • Penemuan percetakan
  • Dalam hal hubungan jarak jauh

Perkembangan peradaban manusia diiringi dengan perkembangan cara penyampaian pesan/informasi (yang selanjutnya dikenal sengan istilah Teknologi Komunikasi atau Teknologi Informasi). Mulai dari gambar-gambar yang tak bermakna di dinding-dinding goa, pe;etakan tonggak sejarah dalam bentuk prasasti sampai diperkenalkannya dunia arus informasi yang kemudian dikenal dengan nama INTERNET.

Masa Pra-Sejarah (…s/d 3000 SM)

Pada masa ini tek kom yang dikembangkan manusia berfungsi sebagai pengenalan bantuk yang mereka kenal dengan menggambarkannya di dinding-dinding goa, karena pada awalnya kemamuan komunikasi manyusia hanya dalam bentuk  dengusan dan gerakan tangan.

Perkembangan selanjutnya adalah diciptakan dan digunakannya alat-alat yang menghasilkan bunyi dan isyarat, seperti gendang, terompet yang terbuat dari tanduk binatang, isyarat asap sebagai alat pemberi peringatan terhadap bahaya.

Masa Sejarah (3000 SM s/d 1400-an SM)

Teknologi Komunikasi belum menjadi teknologi masal, masih digunakan oleh kalangan-kalangan terbatas saja, digunakan  pada saat-saat khusus, dan mahal.

  • 3000 SM; Untuk pertama kali tulisan digunakan oleh bangsa sumeria dengan menggunakan symbol-simbol yang dibentuk dengan pictograf sebagai huruf
  • 2900 SM; Penggunaan HUruf Hierogliph (bahasa symbol) pada bangsa mesir kuno, bentuk tulisan da bahasa hierogliph ini lebih maju dibandingkan dengan tulisan bangsa sumeria.
  • 500 SM; serat papyrus digunakan sbagai kertas
  • 105 SM; Bangsa Cina menemukan Kertas. Penemuan ini juga memungkinkan sistem percetakan yang dilakukan dengan menggunakan blok kayu atau seperti yang kita kenal sekarang dengan sistem cap.

Masa Modern (1400-an SM s/d sekarang)

  • Tahun 1830; Augusta Lady Byron menulis program computer yang pertama di dunia bekerjasama dengan Charles Babbage mewnggunakan mesin analitycal-nya. Mesin ini dikenal dengan sebagai bentuk computer digital yang pertama walaupun cara kerjanya lebih bersifat mekanis daripada bersifat digital.
  • Tahun 1837; Samuel Morse mengembangkan Telegraph dank ode Morse bersama Sir William Wheatstone dengan menggunakan kabel penghubung.
  • Tahun 1861; gambar bergerak yang diproyeksikan ke dalam sebuah layar pewrtama kali digunakan sebagai cikal bakal film sekarang.
  • Tahun 1876; Melvyl Dewey mengembangkan system penulisan decimal.
  • Tahun 1877; Alexander Graham Bell menciptakan dan mengembangkan Telepon yang digunakan prtamakali ssecara umum.

Fotografi dengan kecepatan tinggi ditemukan oleh Edward Maybridgel.

  • Tahu 1899; dipergunakan system penyimpanan dalam Tape (pita) Magnetis yang pertama.
  • Tahu 1923; Zvorkyn menciptakan tabung TV yang pertama.
  • Tahun 1940; Dimulainya pengembangan Ilmu Pengetahuan dalam bidang Informasi pada masa Perang Dunia II yang dipergunakan untuk kepentingan pengiriman dan penerimaan dokumsn-dokumen militer yang disimpan dalam bentuk magnetic tape.
  • Tahun 1945; Vannevar Bush; mengembangkan system pengkodean menggunakan Hypertext.
  • Tahun 1946; Para peneliti di Bell Telephone mengembangkan Transistor.
  • Tahun 1957; Jean Horny mengembangkan Transistor Planar.
  • Tahun 1962-1969;  Dikembangkannya Sistem Jaringan.
  • Tahun  1972; Ray Tomlinson menciptakan program e-mail yang pertama.
  • Tahun 1973-1990; Istilah INTERNET  diperkenalkan dalam sebuah paper mengenai TCP/IP. Kemudian pengembangan sebuah protocol (TCP/IP), Backbone yang disebut CSNET, server sebagai alat koordinasi antara; DARPA, ARPANET, DDN, dan internet Gateway.
  • Tahun 1991-sekarang:

1992, pembentukan komunitas internet, dan diperkenalkannya istilah World Wide Web oleh CERN.

1993, dibentuknya interNIC oleh NSF.

1994, pertumbuhan internet dengan sangat cepat dan mulai merambah ke dalam segala segi kehidupan mausia dan tidak dapat dipisahkan dari manusia.

1995, pengembangan Teknologi Informasi khususnya Internet dan penelitian-penelitian untuk mengembangkan system dan alat yang lebih canggih.

Menurut Everett M. Rogers (1986) secara garis besar terdapat 4 era komuniaksi:

  • Era kom. Tulisan; 4.000 SM – sekarang
  • Era kom. Cetak; 1456 – sekarang
  • Era telekomunikasi; 1844 – sekarang
  • Era kom. Interaktif; 1946 – sekarang

Percepatan perkembangan Tek. Kom, menurut Alwi Dahlan ditandai dengan:

  • CD ROOM
  • Diluncurkannya system satelit orbit rendah
  • Teknologi sederhana pesawat penerima radio lebih canggih, sehingga bisa berfungsi sebagai pager.
  • Diluncurkannya fasilitas yag berbau E.

REVOLUSI KOMUNIKASI dan PERUBAHAN HISTORIK

Menurut Nasiton (1989)n dunia sedang berubah, bentuk masyarakat yang seperti apa yang akan muncul sebagai hasil dari gerak perubahan ini? Perkembangan Teknologi Komunikasi memiliki pengaruh yang penting terhadap perkembangn kebudayaan, bahkan mampu menciptakan sebuah kebudayaan baru.

Konvergensi

Posted: Januari 7, 2011 in Uncategorized
by :subur siswanto

:{09220291}

Artikel Mengenai Konvergensi

Dunia penyiaran ke depan akan berubah seiring berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi. Sifat-sifat teknologi telekomunikasi konvensional yang bersifat massif sekarang sudah mampu digabungkan dengan teknologi komputer yang bersifat interaktif. Sistem analog yang telah bertahan sekian puluh tahun akan segera tergantikan oleh sistem digital, dan implementasinya segera memunculkan fenomena baru: konvergensi. Sederhananya, konvergensi adalah bergabungnya media telekomunikasi tradisional dengan internet sekaligus. Bersamaan dengan berlangsungnya konvergensi dibidang telematika, akan terjadi peralihan sistem penyiaran analog ke sistem penyiaran digital. Televisi digital (DTV / Digital Television) menggunakan modulasi digital dan kompresi untuk menyebarluaskan video, audio, dan signal data ke pesawat televisi.
Kunci dari konvergensi adalah digitalisasi, kerena seluruh bentuk informasi maupun data diubah dari format analog ke format digital sehingga dikirim ke dalam satuan bit (binary digit). Karena informasi yang dikirim merupakan format digital, konvergensi mengarah pada penciptaan produk-produk yang aplikatif yang mampu melakukan fungsi audiovisual sekaligus komputasi. Maka jangan heran jika sekarang ini komputer dapat difungsikan sebagai pesawat televisi, atau telepon genggam dapat menerima suara, tulisan, data maupun gambar tiga dimensi (3G). Dalam dunia penyiaran, digitalisasi memungkinkan siaran televisi memiliki layanan program seperti laiknya internet. Cukup dengan satu perangkat, seseorang sudah dapat mengakses surat kabar, menikmati hiburan televisi, mendengar radio, mencari informasi sesuai selera, dan bahkan menelpon sekalipun.
Konvergensi media menyediakan kesempatan baru yang radikal dalam penanganan, penyediaan, distribusi dan pemrosesan seluruh bentuk informasi secara visual, audio, data dan sebagainya (Preston, 2001: 27). Dampak dari konvergensi media tentu saja berlangsung di berbagai bidang. Di ranah komunikasi massa misalnya, strategi jurnalistik konvensional sekarang ini mengalami perubahan signifikan. Jurnalis masa kini dituntut mampu menyegerakan penyampaian informasi yang diperoleh dan mengirimkannya ke khalayak. Maka, masyarakat sekarang mengenal apa yang disebut sebagai jurnalisme online (Abrar, 2003: 45). Aplikasi teknologi komunikasi terbukti mampu mem-by pass jalur transportasi pengiriman informasi media kepada khalayaknya. Di sisi lain, jurnalisme online juga memampukan wartawan untuk terus-menerus meng-up date informasi yang mereka tampilkan seiring dengan temuan-temuan baru di lapangan. Jurnalisme online sekaligus akan mengurangi fungsi editor dari sebuah lembaga pers. Seorang jurnalis online akan memperoleh otonomi yang lebih luas dalam meng-up load informasi baru tanpa terkendala lagi oleh mekanisme kerja lembaga pers konvensional yang relatif panjang.
Beberapa Konsekuensi
Konvergensi media bukan saja sekadar memperlihatkan bekerjanya ICT (information and communication technology) di ranah media. Bergabungnya media massa konvensional beserta teknologi internet tak ayal menumbuhkan serangkaian konsekuensi baru baik pada tataran teoritis maupun praktis. Pada tataran teoritik, pengertian komunikasi massa konvensional rasanya patut diperdebatkan kembali. Konvergensi menyebabkan perubahan signifikan pada ciri-ciri komunikasi massa konvensional. Tertundanya umpan balik yang lazim pada media massa konvensional semakin berkurang, bahkan hampir-hampir lenyap. Media konvergen memunculkan karakter baru yang makin interaktif, dimana penggunanya mampu berkomunikasi secara langsung dan memperoleh konsekuensi langsung atas pesan (Severin dan Tankard, 2001: 370). Disebabkan karena sifat interactivity media konvergen, maka pendekatan linear sebagaimana sering dilakukan dalam memandang konteks komunikasi massa terasa kurang relevan lagi.
Perpaduan ciri-ciri komunikasi massa dan komunikasi antarpribadi dalam media konvergen menyebabkan berubahnya konsep massa. Dalam komunikasi massa konvensional, massa yang diartikan sebagai kesatuan khalayak yang anonim dan teralienasi, sehingga pesan yang disampaikan kepadanya pun besar-besaran (massive) dalam media konvergen justru terjadi proses demassivikasi. Media konvergen menyebabkan derajat massivitas massa berkurang, karena komunikasinya makin personal dan interaktif. Sebagaimana diungkap McMillan (dalam Lievrouw dan Livingstone, 2004: 164), konvergensi teknologi komunikasi baru memungkinkan terciptanya komunikasi interpersonal yang termediasi.
Pada tataran praktis, konvergensi media menghadirkan isu-isu penting di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan.. Di bidang pendidikan, lembaga pendidikan akan dituntut untuk mampu menyediakan lulusan yang memiliki kematangan akademis sekaligus kapabilitas praktik yang baru dan berbeda dengan sebelumnya. Dalam konteks ini, dunia pendidikan di masa mendatang dihadapkan pada tantangan-tantangan pembenahan kurikulum agar sesuai betul dengan laju teknologi yang tidak terbendung. Dunia kerja di masa mendatang akan mensyaratkan kualifikasi keterampilan baru pada setiap pekerjaan yang berhubungan konvergensi teknologi.
Dari sudut pandang ekonomi politik, konvergensi juga berarti peluang profesi baru. Konvergensi memberikan kesempatan baru kepada pengelola media konvergen untuk memperluas pilihan publik sesuai selera, karena tersedianya sejumlah pilihan akses sekaligus. Sekalipun demikian, di aras ekonomi ini konvergensi juga berpeluang menciptakan kelompok dominan baru yang akan menjadi penguasa pasar. Konsentrasi kepemilikan salah satunya. Sektor-sektor media yang berbeda akan bergabung dan menghidupkan konglomerasi. Padahal, manakala kepemilikan baik secara vertikal maupun horisontal sudah dikuasai oleh kelompok, ekses lanjutannya senantiasa tidak menyenangkan. Konvergensi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok tertentu untuk menyebarkan gagasan-gagasan politik secara lebih leluasa dibandingkan dengan media massa konvensional. Bagi pemodal yang berafiliasi dengan kelompok politik, konvergensi memberi peluang yang labih terbuka untuk mentransformasikan gagasan politik tertentu untuk meraup suara publik. Dengan demikian maka konvergensi media berarti juga berpotensi menjadi medium hegemoni baru bagi kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik untuk meraih keuntungan sepihak. Konfigurasi kekuatan semacam ini dapat mengancam terselenggaranya kehidupan demokrasi, karena, hakikatnya suara publik cenderung akan dikendalian oleh kekuatan dominan dari pemilik modal sekaligus kelompok kepentingan.
Oleh karena itu, pada aras politik diversifikasi konvergensi menuntut kebijakan politik yang menjamin adilnya distribusi dan perlindungan konsumen. Pada tingkat ini, diperlukan regulasi yang memadai agar akses konvergensi dapat dinikmati secara relatif merata untuk semua kalangan. Termasuk di dalamnya adalah agar khalayak terlindungi dari dampak buruk media konvergen. Hal ini menjadi urgen untuk dipikirkan, engingasifat alamiah perkembangan teknologi yang selalu saja mendua; di satu sisi konvergensi memberi dampak positif dan di sisi lain negatif. Di samping optimalisasi sisi positif, antisipasi terhadap sisi negatif konvergensi nampaknya perlu dikedepankan sehingga konvergensi teknologi mampu membawa kemaslahatan bersama.
Dari sudut pandang kebudayaan, pola perilaku masyarakat akan berubah seiring dengan perkembangan media konvergen (Rice, dalam Lievrouw and Livingstone, 2004: 105-124). Digitalisasi media menyebabkan kurang pentingnya memisahkan isi media dari sisi produksi, editing, distribusi dan penyimpanannya. Maka, bentuk dan isi media mendatang akan berubah mengikuti perkembangan teknologi. Cepat atau lambat, di masa mendatang preferensi masyarakat terhadap media akan beralih dari media konvensional ke media konvergen. Singkatnya, konvergensi akan mengubah hubungan antara teknologi, industri, pasar, gaya hidup dan khalayak.

by:   subur siswanto

{09220291}

KONSEKUENSI SOSIAL dan KULTURAL TEKNOLOGI KOMUNIKASI

1KONSEKUENSI SOSIAL TEKNOLOGI KOMUNIKASI
Memang, teknologi komunikasi menjadi satu kekuatan yang bisa
mempengaruhi kekuatan sosial lainnya. Teknologi komunikasi memiliki
keterkaitan dengan masalah sosial, ekonomi, politik dan budaya. Tidak
berlebihan kiranya bila ada orang yang mengatakan bahwa teknologi komunikasi
mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, politik dan budaya.
Bisa saja pemakaian teknologi komunikasi menguntungkan, misalnya
meningkatkan produktivitas, memperpendek waktu dan jarak. Tetapi, tidak
berarti tidak menimbulkan persoalan. Beberapa persoalan yang muncul
misalnya, jurang antara pihak yang kaya dan miskin informasi makin besar,
privacy jadi terganggu, orang jadi terpencil dari lingkungan sosial, informasi
tidak benar disusupkan melalui media interaktif dan batasan-batasan pekerjaan
yang lama tidak berlaku lagi.
A. Makna Konsekuensi Sosial Pemakaian Teknologi Komunikasi
Salah satu cara untuk melihat pengaruh teknologi komunikasi pada
kehidupan sosial adalah, melihat konsekuensi sosial pemakaian teknologi
komunikasi. Konsekuensi sosial dengan dampak sosial pemakaian teknologi
komunikasi memiliki makna yang berbeda. Konsekuensi sosial adalah akibat
sosial sebagai kelanjutan logis sebuah keadaan atau pemakaian dan sudah
disadari akan terjadi. Sedangkan dampak sosial adalah keadaan sosial sebagai
hasil sebuah perbenturan dua keadaan yang tidak disadari. Dengan demikian,
perbedaan konsekuensi sosial dan dampak sosial adalah pada unsur logis dan
kesadaran. Konsekuensi sosial mengandung unsur logis dan kesadaran,
sedangkan dampak sosial tidak mengandung unsur logis dan sadar.
B. Konsekuensi Sosial. Teknologi Komunikasi
Konsekuensi sosial teknologi komunikasi bisa dilihat pada perubahan
hubungan individu dengan individu, individu dengan komunitas, individu dengan
lembaga sosial (seperti kelurahan, kecamatan, kabupaten propinsi dan negara),
individu dengan media massa, komunitas dan media massa, komunitas dengan.
lembaga sosial, tentu saja setelah pemakaian teknologi komunikasi. Keinginan
untuk berubah tersebut, sesungguhnya, tidak pernah direncanakan oleh seorang
pemakai teknologi komunikasi. Hanya saja dia memperoleh makna dari
pengalamannya menggunakan teknologi komunikasi tersebut. Makna itu sendiri
kemudian direkonstruksikannya ke dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan
demikian, perubahan hubungan yang terjadi seolah-olah datang begitu saja.
Sehubungan dengan kenyataan di atas terdapat dua jenis konsekuensi sosial
teknologi komunikasi yang penting, yaitu:
1. Perubahan Hubungan Sosial
Jika hubungan antara dua komponen masyarakat berubah,
katakanlah antara seorang individu dan individu lain karena pemakaian
teknologi komunikasi, maka sudah terjadi konsekuensi sosial. Bisa saja
perubahan itu berawal dari sense dia mengenai orang lain. Tetapi, pada
saat seorang individu mulai memikirkan sensenya tentang orang lain,
menurut Steven G. Jones, sesungguhnya dia juga mernikirkan sense dia
tentang siapa dirinya, siapa dirinya di antara orang-orang lain dan ingin
menjadi apa dirinya (1998:2). Kalau sudah begini, perubahan hubungan
sosial tersebut berasal dari konstruksi seorang individu tentang, individu
lain.

2
Kenyataan di atas akan menjadi sangat jelas bila dikaitkan dengan
pemakaian komputer dalam masyarakat. Seperti telah diketahui
komputer memiliki kedudukan sebagai pembentuk media baru. Media
baru, yang nota bene membutuhkan komputer tersebut, menjadi alat
untuk berkomunikasi. Tidak heran bila orang menyebutnya sebagai
Computer-Mediated Communication (CMC). CMC ini bisa meningkatkan
kemampuan seorang individu dalam mendengar dan melihat. Nah,
orang-orang yang memakai CMC inilah kelak yang membentuk
cybersociety. Tanpa CMC tidak mungkin ada cyhersociety.
Bila dalam masyarakat biasa setiap individu hidup bersama-sama
secara fisik dalam sebuah daerah tertentu, maka setiap individu di
dalam cybersociety tidak harus hidup dalam sebuah kawasan tertentu.
Bisa saja individu yang tergabung di dalamnya tidak pernah bertemu
secara fisik dan hidup di daerah yang berbeda-beda. Mereka
terhubungkan karena sama-sama menggunakan on-line communication.
Itulah sebabnya konstruksi sosial mereka tentang sebuah realitas tidak
dibentuk oleh jaringan para pemakai CMC, melainkan dalam jaringan itu
sendiri. Dengan demikian, di luar jaringan CMC, realitas itu tidak pernah
terbentuk.
Persoalan yang barangkali muncul adalah, apakah perubahan
hubungan sosial karena pemakaian teknologi komunikasi mengarah pada
kebaikan? Tidak mudah menjawabnya. Yang jelas, sebuah teknologi
komunikasi selalu memiliki efek samping (side effect). Sebuah
penelitian yang dilakukan oleh Stanford Institute for the Quantitive
Study of Society terhadap 4.000 pengguna internet menyebutkan bahwa
internet menyebabkan isolasi sosial (social isolation). Makin lama
seorang individu menggunakan internet, makin berkurang kontaknya
dengan lingkungan sosial (Suara Pembaruan, 2/9/01).
Pola hubungan menggunakan CMC antara pengirim dan penerima
pesan umumnya belum saling mengenal (unknown) apalagi dengan
penggunaan identitas singkat pada e-mail dan nick name pada fasilitas
IRc menyebabkan komunikasi yang terjadi adalah komunikasi tertutup
tidak terbuka. Kecenderungan yang demikian menyebabkan interaksi
sosial yang terjadi tidak memiliki makna dan hanya bersifat maya atau
semu.
Konsekuensi sosial lainnya adalah melalui bantuan komputer bisa
melihat hasil ketikan di layar monitor sebelum dicetak (paperless)
sehingga lebih effisien dalam waktu dan tempat penyimpanan file.
Makanya dahulu banyak kursus mengetik, sekarang sudah jarang kita
temui kursus mengetik apalagi di kota-kota besar. Setelah dirasakan
dapat menggantikan cara konventional baru terlihat kelebihan lainnnya,
misal menggantikan sarana pengiriman surat dengan surat eletronik (email),
pencarian data melalui search engine, chatting, mendengarkan
musik, dan sebagainya. Fenomena ini menunjukkan bahwa disamping
efsiensi dalam penggunaannya adanya teknologi komunikasi baru
menyebabkan tingkat ketrgantungan pada orang lain semakin berkurang.
Adanya e-mail menyebabkan masyarakat tidak membutuhkan lagi tukang
pos apalagi Kantor Pos. Tidak perlu bertemu dengan pedagang
perangko, penjual amplop dan sebagainya.
Perkembangan Teknologi Komunikasi
2. Transformasi Sosial.
Munculnya masyarakat informasi yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
(i) informasi menjadi senjata strategis; (ii) pemilihan. informasi menjadi
dasar konflik antara pernerintah dan pengusaha; (iii) informasi tidak lagi
gratis; (iv) semua informasi yang bernilai tinggi akan tersimpan dalam
bentuk digital; (v) pustaka akan dipenuhi oleh buku-buku pintar elektronik;
(vi) pustaka dunia akan muncul dalam bentuk informasi elektronik; (vii)
konsep manusia tentang privacy, security dan pemilikan berubah; (viii)
pertukaran informasi meruntuhkan batas-batas budaya dan wilayah; (ix)
konflik akan terjadi antara pemakai dan manajemen sistem informasi; dan
(x) orang-orang yang menjadi “spesialis informasi” akan menjadi sangat
berkuasa (Dalam Tanduklangi, 1993:127).
Tetapi, sebuah masyarakat tidak bisa disebut masyarakat informasi
kalau masyarakat tersebut tidak terbuka. Salah satu pendorong lahirnya
masyarakat terbuka adalah pemakaian teknologi komunikasi. Ini terasa
logis. Sebab, pemakaian teknologi komunikasi mempengaruhi struktur
masyarakat. Nilai vang dibawa oleh sebuah teknologi kornunikasi sanggup
menggoyahkan struktur masyarakat yang lama. Nilai egaliter misalnya,
menggusur struktur masyarakat yang tertutup. Kalau masyarakat masih
mempertahankan struktur masyarakat tertutup dengan adanya CMC
misalnya, itu sarna saja dengan menentang evolusi.
Wajah masyarakat dalam masyarakat terbuka ditandai oleh
keberadaan nilai-nilai heterogen. Akibatnya sifat pluralistik jadi menonjol.
Penonjolan sifat pluralistik ini menjadikan menuntut masyarakat mengubah
orientasinya. Tidak terlalu berlebihan bila ada orang yang berpendapat
bahwa kesadaran masyarakat untuk mengenal dirinya sendiri sangat penting
dalam rangka memakai sebuah teknologi komunikasi. Pilihan orientasi diri
ini menentukan seluruh sikap individu dalam memakai teknologi
komunikasi.
Bila masyarakat terbuka sudah terwujud, maka sesungguhnya ia bisa
memaksakan terbentuknya pemerintahan yang terbuka (open government)
pula. Pemerintahan yang terbuka sudah dianut oleh banyak negara
demokratis. la ditandai, paling tidak oleh: (i) seluruh kegiatan pemerintah
harus bisa diikuti dan dipantau oleh khalayak; (ii) informasi yang dikuasai
oleh pemerintah mudah diakses khalayak; dan (iii) proses pengambilan
keputusan terbuka bagi keterlibatan khalayak (Santosa 2001:41). Dengan
dekian, tiga parameter utama pengelolaan negara yang baik
(Gooodoovernance), seperti akuntabilitas, transparansi dan partisipasi
dipenuhi oleh pemerintahan yang terbuka. Goodgovernance sendiri
sekarang sudah menjadi salah satu ukuran eksistensi sebuah negara.
Transformasi sosial lainnya adalah terdapatnya orientasi kerja manusia
yang semula pada otot berubah berorientasi pada otak, sehingga perbedaan
gender dalam kerja semakin sempit. Pergeseran pola hidup secara umum.
Pola hidup manusia akan sangat tergantung kepada komputer yang
menggambarkan besarnya keterlibatan teknologi informasi dalam hidup
manusia. Dampak ini akan terus berlanjut hingga produk-produk yang
dikelola komputer menjadi produk yang cerdas ( smart product ).
Perkembangan Teknologi Komunikasi

KONSEKUENSI KULTURAL TEKNOLOGI KOMUNIKASI
A. Makna Konsekuensi Kultural Teknologi Komunikasi
Untuk memahami makna konsekuensi kultural teknologi komunikasi, perlu
diungkap pengertian cultural lebih dulu. Kultural berasal dari kata cultural, yang
dalam Bahasa Inggris berarti having to do with culture (berkaitan dengan budaya).
Jadi, tidak berlebihan bila kultural diartikan sebagai kebudayaan. Atas dasar
pemikiran di atas, konsekuensi cultural pemakaian teknologi komunikasi dilihat pada
karakter yang dimiliki lembaga sosial, sistem pengetahuan, perilaku keseharian
individu dan komunitas, sistern nilai dan norma dalam masyarakat berubah, sebagai
kelanjutan logis pemakaian teknologi komunikasi, maka sudah terjadi konsekuensi
kultural. Sebaliknya, bila karakter lembaga sosial, sistem pengetahuan, perilaku
keseharian individu dan komunitas, sistem nilai dan norma dalam masyarakat,
sebagai kelanjutan logis pemakaian teknologi komunikasi, tidak berubah; maka tidak
ada konsekuensi kultural pemakaian teknologi komunikasi.
B. Konsekuensi Kultural. Pernakaian Teknologi Komunikasi
Bila kita menengok kenyataan, misalnya pada perilaku orang-orang yang suka
mengakses internet, temyata mereka sadar bahwa kadang-kadang mereka
“berurusan” dengan apa yang disebut realitas maya (virtual reality). Realitas maya
sendiri, seperti ditulis Mark Slouka, merujuk pada lingkungan yang “menyelubungi”
atau “menghidupkan secara sensual”, yang dimasuki individu dengan cara
menghubungkan dirinya ke komputer (1999:38). Dengan kata lain, orang-orang yang
suka mengakses internet sadar bahwa komputer menciptakan ilusi untuk mereka.
Tetapi, tidak banyak yang bisa membedakan ilusi tersebut dengan dunia nyata.
Akibatnya, mereka merasa senang menghadapinya.
Bisa saja tawaran yang diajukan dunia semu itu sejalan dengan kebutuhan
individu yang mengakses internet. Bisa saja tawaran dunia semu tersebut sesuai
dengan keinginan individu untuk menciptakan identitas baru buat dirinya. Yang jelas,
jaringan internet telah menawarkan bentuk komunitas baru, yaitu komunitas maya
(virtual community) Nah, dalam konteks komunitas semu ini, paling sedikit ada dua
konsekuensi kultural pemakaian teknologi komunikasi yang menonjol, yaitu:
1. Perubahan Sistem Nilai dan Norma
Jika diibaratkan sebagai pengembara, maka orang-orang yang mengakses
internet akan banyak melakukan perjalanan, banyak melihat dan tentu saja
banyak memperoleh informasi. Semua pengalarnan itu, tentu saja akan mengubah
pandangan mereka tentang diri mereka sendiri serta nilai dan norma yang selama
ini mereka anut. Bukan mustahil mereka lantas mengadopsi nilai-nilai
profesionalisme yang mengutamakan prinsip kepakaran, otoritas, otonomi,
autensitas dan integritas. Bukan mustahil pula mereka tidak menyukai lagi
solidaritas komunal. Kalau ini yang terjadi, sesungguhnya perubahan sistem nilai
itu baik untuk kemajuan masyarakat secara keseluruhan. Artinya, nilai-nilai yang
diadopsi adalah nilai yang bermanfaat untuk membangun kebudayaan industrial.
Tetapi bukan mustahil yang terjadi adalah, orang-orang yang mengakses
internet tidak peduli lagi dengan tatanan moral, sistem nilai dan norma yang
telah disepakati berpuluh-puluh tahun. Mereka hanyut dalam pengembaraan
mereka dan menabrak apa saja yang mereka anggap menghambat tujuan mereka.
Mereka merasa tidak peduli lagi dengan segala aturan yang ada.
Bila melihat kenyataan di negara-negara maju, kita tentu mengerti bahwa
perubahan yang terjadi pada orang-orang yang mengakses internet adalah
perubahan moral dan kemanusiaan. Orang tidak peduli lagi dengan moral yangselama ini dijunjung tinggi. Orang juga tidak peduli dengan nilai kemanusiaan
orang lain. Sudah begitu, orang lebih percaya pada isu daripada informasi, lebih
percaya pada rumor ketimbang kebenaran. Pergeseran nilai yang nampak ekstrim
adalah kemudahan pengguna untuk menjelajahi situs-situs porno atau situs-situs
cabul yang banyak bertebaran di internet dan bebas sensor karena internet
dianggap tidak memiliki aturan dan kejelasan hukum dalam penggunaannya.
Selain itu muncul kejahatan menggunakan internet yang disebut dengan
“carding” berupa pembobolan kartu kredit milik orang lain. Ini disebabkan karena
keamanan dalam internet saat ini masih belum sempurna khususnya berkaitan
dengan subscribe pendaftaran diri pada suatu situs
2. Penyerahan sebagian otoritas diri pada teknologi komunikasi
Bila dicermati maka orang-orang yang mengakses teknologi komunikasi
informasi akan meluangkan waktu yang banyak dan biaya yang mahal untuk
mencari informasi yang dibutuhkan. Meski telah terpuaskan oleh informasi yang
didapat kecenderungannya orang-orang tersebut akan terus mencari dan mencari
informasi memalui internet. Disinilah kondisi penyerahan diri pada teknologi
terjadi akibanya Keasyikan dalam menggunakan internet menjadikan semacam
kecanduan yang mau tidak mau membawa ke arah pengeluaran keuangan yang
lebih.
Selain itu penggunaan internet memunculkan trend centre gaya hidup dengan
penambahan pengetahuan dari media internet Orang tidak dianggap eksis bila
tidak memiliki e-mail atau bergabung dalam komunitas virtual seperti friendster
atau blogger. Lembaga tidak dianggap eksis bila tidak memiliki website atau situs
resmi.
2. Kolonialisasi
Munculnya teknologi komunikasi menyebabkan arus informasi dari negara
maju ke negara berkembang adalah tidak seimbang. Ketidakseimbangan ini
menyebabkan masyarakat negara tertentu lebih banyak mengkonsumsi informasi
dari negara yang rich informations (maju). Sehingga memungkinkan munculnya
kolonialisasi> Kolonialisasi disini bukannya taktik imperialisme dalam penaklukan
negara lain melalui akuisisi tanah dan wilayah namun berupa penjajahan melalui
arus informasi.

 

DAMPAK SOSIAL ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

DAMPAK SOSIAL ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

1. Dampaksosial penemuan (invensi)
Menurut P. Harton tidak ada suatu perubahan social yang tidak menimbulkan akibat terhadap kebudayaan setempat. Bahkan, invensi tambahan pun dapat mempengaruhi unsure-unsur budaya lainnya.

Ogburn menyebutkan 3 bentuk efek social invensi yaitu:
1. Dispersi atau efek beruntun dari sebuah Invensi Mekanik
2. Suksesi atau efek Sosial Lanjutan dari sebuah Invensi
3. Konvergensi atau Munculnya Pengaruh dari invensi secara bersama-sama

2. Dampak Sosial Teknologi
Dampak social teknologi dapat dibagi dua yaitu

1. Dampak Positif contohnya adalah
a. waktu ; contohnya penggunaan penggunaan pesawat terbang, telepon dsb.
b. Menghemat biaya contohnya orang tidak perlu lagi berhubungan langsung dalam berbagai masalah untuk saling berinteraksi dan melakukan transaksi bisnis . Cukup duduk didepan computer dengan modal pulsa local kini bias berinteraksi kemanca Negara.
c. Cepat menyelesaikan masalah yang dihadapi
d. Ada semangat untuk menciptakan instrument
e. Muncul budaya ilmiah
f. Menghasilkan tontonan masyarkat rasional
g. Masyarakat global

2. Dampak Negatif contohnya adalah
a. perubahan tingkah laku
b. masalah seksual
c. polusi udara dan air
d. konservasi hutan dan lingkungan
e. maraknya pengangguran
f. budaya konsumtif
g. menciptakan masyrakat individualistic
h. kesenjangan social

GLOBALISASI

Globalisasi adalah suatu proses atau tatanan yang menyebabkan seseorang, sekelompok orang, atau Negara saling berhubungan dengan komunitas atau Negara lain akibat kemajuan teknologi komunikasi diseluruh penjuru dunia.
Dalam globalisasi pertukaran informasi mudah terjadi sebagai akibat pertukaran unsure-unsur budaya asing antar Negara mudah terjadi pula. Dalam pertukaran tersebut belum tentu cocok dengan unsure budaya setempat. Ada factor-faktor yang sifatnya negative . Contohnya pergaulan bebas, pornografi, melemahnya nilai-nilai agama, dan lain sebagainya.

DAMPAK DARI GLOBALISASI .

Dampak dari globalisasi adalah :
a. Geger budaya (cultural sock) yaitu kondisi goncangan jiwa atau mental pada diri seseorang atau sekelompok orang sebagai akibat belum adanya kesanggupan atau kesiapan untuk menerima unsure-unsur kebudayaan asing yang berbeda jauh dengan kebudayaan sendiri.
b. Kesenjangan kebudayaan (cultural lag) . dalam masyarakat yang sedang berubah, unsure-unsur kenmasyrkatan dan kebudayaan tidak selamanya berubah dalam kecepatan yang sama . kesenjangan pertumbuhan yang tidak sama cepatnya ini menimbulkan ketidak sieimbangan yang sering disebut Cultural lag.
c. Memperkaya unsure-unsur kebudayaan Indonesia. Dalam globalisasi tentu mempunyai dampak positif pula bagi suatu bangsa yaitu keterbukaan informasi yang semakin memperkaya unsure-unsur kebudayaab di Indonesia . Contohnya masyarkat Indonesia mengenal arti imansifasi wanita dan sebagainya.

TANTANGAN MEMPERTAHANKAN JATI DIRI BANGSA.

Globalisasi juga membawa dampak negative yang harus diperangi. Masuknya unsure-unsur kebudayaan asing tentu merupakan ancaman dan tantangan tersediri bagi kebudayaan kita . Umumnya kaum muda yang paling mudah terpengaruh oleh kebudayaan asing. Mereka mudah melupakan dan menganggap kuno kebudayaan sendiri.
Berikut ini adalah tantangan global yang dihadapi bangsa Indonesia sehuntgan dengan upaya mempertahankan jati diri bangsa :
1. melemahnya penghayatan terhadap Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa
2. memp[erkaya bahasa Indonesia tanpa menghilangkan cirri khas dari bahasa Indonesia itu sendiri
3. Berkurangnya legitimasi agama dikalangan masyrakat terutama dikalangan kaum muda
4. penurunan moral dan kekacauan kemanusiaan
5. perubahan pola perilaku dalam pewrgaulan yang mengarah pada nilai-nilai dunia barat.

Dalam menghadapi tantangan globalisai Selo Sumardjan menyatakan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan unsur-unsur kepribadian yaitu :
1. kemampuan berpikir secara rasional dan realities serta obyektif dalam menghadapi masalah-masalah yang dihadapi
2. kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga Negara untuk berperilaku sesuai dengan nilai dan kaidah social
3. memiliki harasa harga diri dan kepercayaan diri sendiri untuk itu serta dalam taa masyarakat yang diwarnai dengan system bersaing
4. memiliki pengetahuan yang luas dari suatu keahlianyang ditekuni secara professional
5. mempunyai cita-cita hidup yang ingin dicapai melalui segala jalan yang sah dan etis

MODERNISASI

Pengertian Modernisasi
Modernisasi merupakan suatu proses menuju masa kini atau proses menuju masarakat modern. Modernisasi dapat pula diartikan sebagai proses perubahan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern.
Di Indonesia istilah modernisasi seringkali disalah artikan . Orang cenderung mengertikan modernisasi sebagai westernisasi, terutama pada sikap para pelakunya yang cenderung selalu meniru secara mutlak pengaruh barat yang masuk.

Syarat-syarat modernisasi:
1. Cara berpikir ilmiah (scientific thinking) yang sudah melembaga dan tertanam kuat dalam kalangan masyarkat luas
2. system administrasi Negara yang abaik dan benar-benar mewujudkan birokrasi
3. system pengumpulan data yang baik teratur dan terpusatpada suatu lembaga atau badan tertentu seperti BPS.
4. penciptaan iklim yang menyenangkan terhadap modernisasi terutama media masa
5. tingkat organisasi yang tinggi terutama disiplin diri
6. sentralisasi wewenang dalam perencanaan social (social planning)yang tidak mementingkan kepentingan pribadi atau golongan,
(menurut Soejono Soekanto).

Ciri-ciri masyarakat modern.
1. Memiliki sikap hidup untuk menerima hal-hal yang baru dan terbuka untuk perubahan
2. memiliki keberanian untuk menyatakan pendapat atau opini mengenai lingkungannya sendiri atau kejadian yang terjadi jauh diluar lingkungannya serta dapat bersikap demokratis.
3. menghargai waktu dan lebih banyakberorientasi pada masa depan daripada masa lalu.
4. memiliki perencanaan dan pengorganisasian.
5. percaya diri
6. perhitungan
7. menghargai harkat hidup manusia lain
8. percaya pada ilmu pengetahuan dn teknologi
9. menjunjung tinggi suatu sikap diomana imbalan yang diterima seseorang haruslah sesuai dengan prentasinya dalam masyarakat.

Dampak modernisasi terhadap kehidupan masyarakat
1. Urbanisasi
2. kesenjangan social ekonomi
3. pencemaran lingkungan
4. kriminalitas
5. lunturnya eksistensi jati diri bangsa

Dampak dari globalisasi terhadap eksistensi jatidiri bangsa
Globalisasi yang ditandai dengan semakin kaburnaya sekat-sekat antar Negara akan memberikan dampak pada eksistensi jatidiri bangsa itu sendiri.
Contohnya adalah :

1. Berkembangnya interner menyebabkan arus informasi dapat dinikmati oleh seluruh warga dunia dengan mudah tanpa dapat dikontrol oleh negaranya . Ide-ide, norma-norma nilai-nilai, tidak jarang bertentangan dengan ide dan nilai masyarkat suatu bangsa dengan mudahnya dapat mempengaruhi masyarkat hanya cukup dengan duduk didepan computer.

2. Di bidang ekonomi , masuknya perusahaan-perusahaan multinasional telah mematikan dan usaha-usaha masyarakat . mengapa tidak produk-produk luar yang dengan kemassan yang menarik dan murah harganya , peruhaan nasional akhirnya kalah bersaingin akhirnya perusahaan-perusahaan nasional pada gulungtikar dan pengangguran semakin meningkat. Belum lagi dari perubahan perilaku , budaya local semakin terpinggirkan , budaya asing yang cenderung di minati dengan berbagai alas an perubahan social dan modernisasi dan sebagainya.

G. Dampak Teknologi Informasi

Teknologi merupakan hasil karya manusia untuk mengolah lingkungan dan menyesuaikan diri dengannya. Teknologi membantu memperpanjang tangannya, memperkuat ototnya atau menyambung indera dan otaknya. Teknologi membuat lingkungannya nyaman, aman dan efisien untuk didiami dan diolah. Karena manusia dipengaruhi oleh lingkungan, maka lingkungan teknologi juga mempunyai dampak terhadap manusia, namun teknologi mutakhir yang berkembang besar-besaran dengan laju yang cepat dampaknya terhadap manusia juga luas dan dalam. Pengaruh ini dapat langsung atau primer dapat pula tidak secara langsung, sekunder atau tersier.

Diantara dampak negatif teknologi informasi terhadap manusia dapat disebutkan sebagai berikut :

1. Dampak terhadap manusia

a. Pergeseran atau penggantian manusia (displacement, subtitution), misalnya fungsi otot-otot besar manusia yang di dalam pekerjaannya diganti oleh teknologi, sehingga manusia mengalami atrofi atau dapat pula otaknya digantikan sehingga terjadi atrofi mental. Bahkan mungkin seluruh fungsi manusia diganti oleh robot, sehingga tergeser dari pekerjaannya.

b. Kebebasan terkekang, dalam banyak hal kita harus menyesuaikan diri dengan alat-alat dan sistem. Waktu mengatur pekerjaan kita meskipun bertentangan dengan kronobiologi atau irama biologi kita. Hasil pekerjaan yang utuh tidak bisa dinikmati, karena pekerjaan yang sudah terfragmentasi dan monoton. Informasi yang dapat diolah semakin banyak, tetapi saluran untuk mengungkapkan informasi tersebut semakin sedikit.

c. Kepribadian terhimpit, karena pengaruh informasi yang sifatnya global maka manusia cenderung menjadi manusia yang terpengaruh oleh isue-isue global, sementara kultur, nilai-nilai lokal menjadi semakin terkikis.

d. Objektifitas manusia (dehumanisasi), manusia dianggap sebagai hal yang obyektif, diurai-urai hanya hal-hal yang dapat diukur atau dihitung saja, sedangkan yang lain dianggap periferal dan tidak menjadi pertimbangan dalam usaha-usaha pengembanan, pendidikan dan peningkatannya.

e. Mentalitas teknologi, hal ini tercermin pada kepercayaan yang berlebihan pada alat (teknosentris), seolah-olah segala sesuatu dapat dipecahkan oleh teknologi dan sesuatu akan lebih meyakinkan kalau dilakukan dengan peralatan dan disertai angka-angka. Hal ini yang sudah biasa atau mudah diperhitungkan masih memerlukan bantuan penelitian eksperimen.

f. Penyeimbangan kembali yang tidak adaptif, dalam rangka mengembalikan keseimbangan yang terganggu oleh teknologi. Orang kadang lari dari kenyataan hidup dengan menggunakan obat-obatan seperti narkotika, psikotropika dan mencari kekuatan dengan mengumpulkan barang-barang status (positional goods) untuk mengkompensasi adaptasi yang gagal.

g. Krisis teknologi, berbagai krisis yang melanda dunia abad ini terutama disebabkan oleh perkembangan teknologi yang terlalu cepat, sehingga proses adaptasi dan integrasi tidak sempat dilakukan. Akibatnya terhadap individu ialah technostress, penyakit urban, penyakit peradaban.

2. Dampak terhadap lingkungan

Seperti halnya dampak terhadap manusia, maka dampak negatif terhadap lingkungan bertambah penting karena makin luas, cepat dan irreversibel. Beberapa dampak teknologi terhadap manusia, termasuk lingkungan kultural adalah :

a. Terkurasnya sumberdaya, karena teknologi cenderung berkembang kearah penciptaan kebutuhan baru, hiperkonsumsi, maka manusia makin meninkat terutama untuk kebutuhan kultural.

b. Gangguan iklim, tumbuhnya kawasan industri, sehingga dapat menimbulkan perubahan cuaca dan iklim.

c. Pencemaran lingkungan, masalah ini juga banyak dibicarakan oleh pemerhati lingkungan.

d. Destabilisasi dan dekompensasi lingkungan, mengganggu keseimbangan ekosistem atau lebih tepat kesatuan alam menjadi rusak.

e. Beban lebih informasi, ligkungan informasi juga akan menimbulkan problem karena pertumbuhannya yang sangat cepat, melampui daya serap dan daya olah manusia.

f. Konsumsi tinggi dan massal, konsumsi masal makin membebani lingkungan dan menyebabkan ketidakseimbangan. Jika dinamika sosial ekonomi tidak bergerak seiring dengan peningkatan konsumsi, maka masyarakat dunia ketiga hanya menjadi konsumen barang-barang dari negeri mewah yang sebetulnya tidak diperlukan.

g. Meningkatnya kriminalitas dunia maya (Cybercrime), perkembangan teknologi informasi telah memunculkan trend kriminalitas baru di dunia maya, pembobolan kartu kredit, penipuan-penipuan dengan menggunakan sarana internet, dan pembajakan-pembajakan software menjadi PR bagi penegak hukum untuk mengatasinya.

Era informasi yang telah hadir dihadapan kita, mau tidak mau akan membawa dampak positif maupun negatif. Tanpa inisiatif yang tinggi menyambut datangnya era informasi ini, kita hanya akan menjadi penonton, atau bahkan jadi korban (sitting duck). Namun jika kita mampu berada dan ikut menjadi pelaku di dalamnya, kita akan dapat menikmati dan merasakan sisi positif dari era informasi ini. Tentu saja hal ini tidak mudah, walaupun bukannya tidak mungkin.

Dampak kemajuan teknologi informasi yang tidak sehat akan berdampak jauh lebih berbahaya dibanding keunggulannya dan kemanfaatannya terutama dikalangan remaja seperti di negara barat. Kita sangat mudah melihat dan menerima informasi dari berbagai belahan dunia tanpa harus memerlukan biaya yang mahal. Untuk menghindari hal itu masyarakat harus dapat melihat dan membedakan isu-isu mana yang bermanfaat dan tidak bermanfaat untuk diadopsi demi untuk kemajuan dan kemaslahatan umat manusia secara keseluruhan

 

 

 

by:   subur siswanto

{09220291}

Fenomena “Jurnalisme Online” Bagian Dari Gaya Hidup Modern

Berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi (information and communication technology / ICT) selama dekade terakhir membawa tren baru di dunia industri komunikasi yakni hadirnya beragam media yang menggabungkan teknologi komunikasi baru dan teknologi komunikasi massa tradisional. Fenomena yang sering disebut sebagai konvergensi media ini memunculkan beberapa konsekuensi penting.

Untuk mengimbangi gaya hidup masyarakat modern yang serba sibuk, unsur hiburan atau intertainment merupakan unsur yang perlu dipadukan ke dalam teknologi komunikasi dan informasi sehingga perangkat teknologi informasi tak sekedar tampil ‘ala kadarnya’ tetapi juga dapat lebih menarik dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat modern.

Selain itu, konvergensi media bukan saja memperkaya informasi yang disajikan, melainkan juga memberi pilihan kepada khalayak untuk memilih informasi yang sesuai dengan selera mereka. Tidak kalah serius, konvergensi media memberikan kesempatan baru yang radikal dalam penanganan, penyediaan, distribusi dan pemrosesan seluruh bentuk informasi baik yang bersifat visual, audio, data dan sebagainya.

Melihat kebutuhan tersebut, saat ini banyak perusahaan telekomunikasi yang menyediakan layanan jaringan (network), layanan internet, layanan hosting dan layanan suara/telepn, memadukan teknologi komunikasi informasi dengan unsur intertaiment melalui MAX3 layanan triple play yang terdiri dari Broadband Internet, Voice Over Internet Protocol (VoIP) dan Interactif TV (IPTV).

Fenomena jurnalisme online sekarang ini menjadi contoh menarik. Khalayak pengakses media konvergen alias ”pembaca” tinggal meng-klik informasi yang diinginkan di komputer yang sudah dilengkapi dengan aplikasi internet untuk mengetahui informasi yang dikehendaki dan sejenak kemudian informasi itupun muncul. Alhasil, aplikasi teknologi komunikasi terbukti mampu menjembatani jalur transportasi pengiriman informasi media kepada khalayaknya.

Di sisi lain, jurnalisme online juga memudahkan wartawan untuk terus-menerus meng-up date informasi yang mereka tampilkan seiring dengan temuan-temuan baru di lapangan. Dalam konteks ini, konsekuensi lanjutnya adalah berkurangnya fungsi editor dari sebuah lembaga pers karena wartawan relatif mempunyai kebebasan untuk segera meng-up load informasi baru tanpa terkendala lagi oleh mekanisme kerja lembaga pers konvensional yang relatif panjang.

Namun konvergensi menimbulkan perubahan signifikan dalam ciri-ciri komunikasi massa tradisional atau konvensional. Media konvergen memadukan ciri-ciri komunikasi massa dan komunikasi antar pribadi dalam satu media sekaligus. Karenanya, terjadi apa yang disebut sebagai demasivikasi (demasssification), yakni kondisi di mana ciri utama media massa yang menyebarkan informasi secara masif menjadi lenyap. Arus informasi yang berlangsung menjadi makin personal, karena tiap orang mempunyai kebebasan untuk memilih informasi yang mereka butuhkan.

Teknologi komunikasi baru memungkinkan sebuah media memfasilitasi komunikasi interpersonal yang termediasi. Dahulu ketika internet muncul di penghujung abad ke-21, pengguna internet dan masyarakat luas masih mengidentikkannya sebagai ”alat” semata. Berbeda halnya sekarang, internet menjadi ”media” tersendiri yang bahkan mempunyai kemampuan interaktif. Sifat interactivity dari penggunaan media konvergen telah melampaui kemampuan potensi umpan balik (feedback), karena seorang khalayak pengakses media konvergen secara langsung memberikan umpan balik atas pesan-pesan yang disampaikan.

Karakteristik komunikasi massa tradisional di mana umpan baliknya tertunda menjadi lenyap karena kemampuan interaktif media konvergen. Oleh karenanya, diperlukan pendekatan baru di dalam melihat fenomena komunikasi massa. Disebabkan karena sifat interactivity media komunikasi baru, maka pokok-pokok pendekatan linear (SMCRE = source a message a channel areceiver a effect/feedback) komunikasi massa terasa kurang relevan lagi untuk media konvergen.

Dalam konteks yang lebih luas, konvergensi media sesungguhnya bukan saja memperlihatkan perkembangan teknologi yang kian cepat. Konvergensi mengubah hubungan antara teknologi, industri, pasar, gaya hidup dan khalayak. Singkatnya, konvergensi mengubah pola-pola hubungan produksi dan konsumsi, yang penggunaannya berdampak serius pada berbagai bidang seperti ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan.

Jika tren-tren seperti itu merebak ke berbagai negara, bukan tidak mungkin suatu saat nanti peran pers online akan menggantikan peran pers tradisional. Konvergensi memberikan kesempatan baru kepada publik untuk memperluas pilihan akses media sesuai selera mereka. Dari sisi ekonomi media, konvergensi berarti peluang-peluang profesi baru di dunia industri komunikasi. Tidak kalah pentingnya di dalam mempersiapkan sumber daya yang mampu merespon kebutuhan pasar ke depan adalah sektor pendidikan.

Pendidikan sekarang harus mampu merespon tantangan perubahan yang salah satunya diakibatkan oleh merebaknya media konvergen. Terutama untuk jenjang pendidikan tinggi, diperlukan bukan saja kurikulum yang merangkum pelbagai aspek teknis mekanis teknologi komunikasi baru (ICT); melainkan juga perlu ditanamkan kaidah-kaidah profesional sehingga pada saatnya nanti para lulusan dapat berkarya di masyarakat secara etis dan bertanggung jawab.

Dalam hal penciptaan regulasi konvergensi media, institusi yang paling berwenang membuat regulasi adalah pemerintah atau negara. Cara pandang demikian dapat dipahami jika dilihat dari fungsi negara sebagai regulatory agent di dalam menjaga hubungan antara pasar dan masyarakat. Di satu sisi negara memegang kedaulatan publik dan di sisi lain negara mempunyai apparatus yang berfungsi menjaga efektif tidaknya sebuah regulasi.

Gambaran ideal dari hubungan tiga aktor konvergensi (negara, pasar, masyarakat) ini mestinya berlangsung secara harmonis dan seimbang. Jangan sampai terdapat salah satu pihak yang mendominasi yang lain, misalnya media konvergen cenderung mendominasi masyarakat, sementara masyarakat tidak punya pilihan lain selain menerima apa adanya tampilan-tampilan yang ada pada media.

Beberapa Konsekuensi
Konvergensi media bukan saja sekadar memperlihatkan bekerjanya ICT (information and communication technology) di ranah media. Bergabungnya media massa konvensional beserta teknologi internet tak ayal menumbuhkan serangkaian konsekuensi baru baik pada tataran teoritis maupun praktis. Pada tataran teoritik, pengertian komunikasi massa konvensional rasanya patut diperdebatkan kembali. Konvergensi menyebabkan perubahan signifikan pada ciri-ciri komunikasi massa konvensional. Tertundanya umpan balik yang lazim pada media massa konvensional semakin berkurang, bahkan hampir-hampir lenyap. Media konvergen memunculkan karakter baru yang makin interaktif, dimana penggunanya mampu berkomunikasi secara langsung dan memperoleh konsekuensi langsung atas pesan (Severin dan Tankard, 2001: 370). Disebabkan karena sifat interactivity media konvergen, maka pendekatan linear sebagaimana sering dilakukan dalam memandang konteks komunikasi massa terasa kurang relevan lagi.
Perpaduan ciri-ciri komunikasi massa dan komunikasi antarpribadi dalam media konvergen menyebabkan berubahnya konsep massa. Dalam komunikasi massa konvensional, massa yang diartikan sebagai kesatuan khalayak yang anonim dan teralienasi, sehingga pesan yang disampaikan kepadanya pun besar-besaran (massive) dalam media konvergen justru terjadi proses demassivikasi. Media konvergen menyebabkan derajat massivitas massa berkurang, karena komunikasinya makin personal dan interaktif. Sebagaimana diungkap McMillan (dalam Lievrouw dan Livingstone, 2004: 164), konvergensi teknologi komunikasi baru memungkinkan terciptanya komunikasi interpersonal yang termediasi.
Pada tataran praktis, konvergensi media menghadirkan isu-isu penting di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan.. Di bidang pendidikan, lembaga pendidikan akan dituntut untuk mampu menyediakan lulusan yang memiliki kematangan akademis sekaligus kapabilitas praktik yang baru dan berbeda dengan sebelumnya. Dalam konteks ini, dunia pendidikan di masa mendatang dihadapkan pada tantangan-tantangan pembenahan kurikulum agar sesuai betul dengan laju teknologi yang tidak terbendung. Dunia kerja di masa mendatang akan mensyaratkan kualifikasi keterampilan baru pada setiap pekerjaan yang berhubungan konvergensi teknologi.
Dari sudut pandang ekonomi politik, konvergensi juga berarti peluang profesi baru. Konvergensi memberikan kesempatan baru kepada pengelola media konvergen untuk memperluas pilihan publik sesuai selera, karena tersedianya sejumlah pilihan akses sekaligus. Sekalipun demikian, di aras ekonomi ini konvergensi juga berpeluang menciptakan kelompok dominan baru yang akan menjadi penguasa pasar. Konsentrasi kepemilikan salah satunya. Sektor-sektor media yang berbeda akan bergabung dan menghidupkan konglomerasi. Padahal, manakala kepemilikan baik secara vertikal maupun horisontal sudah dikuasai oleh kelompok, ekses lanjutannya senantiasa tidak menyenangkan. Konvergensi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok tertentu untuk menyebarkan gagasan-gagasan politik secara lebih leluasa dibandingkan dengan media massa konvensional. Bagi pemodal yang berafiliasi dengan kelompok politik, konvergensi memberi peluang yang labih terbuka untuk mentransformasikan gagasan politik tertentu untuk meraup suara publik. Dengan demikian maka konvergensi media berarti juga berpotensi menjadi medium hegemoni baru bagi kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik untuk meraih keuntungan sepihak. Konfigurasi kekuatan semacam ini dapat mengancam terselenggaranya kehidupan demokrasi, karena, hakikatnya suara publik cenderung akan dikendalian oleh kekuatan dominan dari pemilik modal sekaligus kelompok kepentingan.
Oleh karena itu, pada aras politik diversifikasi konvergensi menuntut kebijakan politik yang menjamin adilnya distribusi dan perlindungan konsumen. Pada tingkat ini, diperlukan regulasi yang memadai agar akses konvergensi dapat dinikmati secara relatif merata untuk semua kalangan. Termasuk di dalamnya adalah agar khalayak terlindungi dari dampak buruk media konvergen. Hal ini menjadi urgen untuk dipikirkan, engingasifat alamiah perkembangan teknologi yang selalu saja mendua; di satu sisi konvergensi memberi dampak positif dan di sisi lain negatif. Di samping optimalisasi sisi positif, antisipasi terhadap sisi negatif konvergensi nampaknya perlu dikedepankan sehingga konvergensi teknologi mampu membawa kemaslahatan bersama.
Dari sudut pandang kebudayaan, pola perilaku masyarakat akan berubah seiring dengan perkembangan media konvergen (Rice, dalam Lievrouw and Livingstone, 2004: 105-124). Digitalisasi media menyebabkan kurang pentingnya memisahkan isi media dari sisi produksi, editing, distribusi dan penyimpanannya. Maka, bentuk dan isi media mendatang akan berubah mengikuti perkembangan teknologi. Cepat atau lambat, di masa mendatang preferensi masyarakat terhadap media akan beralih dari media konvensional ke media konvergen. Singkatnya, konvergensi akan mengubah hubungan antara teknologi, industri, pasar, gaya hidup dan khalayak.

Definisi Konvergensi

Definisi Konvergensi :
• Konvergensi adalah Kemampuan jaringan yang berbeda-beda untuk membawa layanan yang serupa (seperti: voice over Internet Protocol (VoIP) atau suara melalui switched network, video melalui televisi kabel atau Asynchronous Digital Subscriber Line (ADSL) atau, kemungkinan lain, kemampuan untuk memberikan berbagai layanan melalui jaringan tunggal seperti yang disebut triple play”.
• Dalam arti paling umum, konvergensi berarti runtuhnya penghalang lama yang sebelumnya memisahkan ICTS menurut sejumlah dimensi: antara industri dan industri, antara aplikasi dan aplikasi, antara produser dan konsumen, antara negara dan negara. Masing-masing mempengaruhi kepemilikan minoritas, penggunaan dan akses teknologi informasi (IT) dengan berbagai cara.
• Konvergensi adalah adalah peningkatan digitalisasi , konten tipe yang berbeda (data,audio,suara,video) diletakkan dalam suatu format yang sama dan dikirim terus melalui variasi teknologi (komputer,handphone,televisi) atau diteruskan pada platform yang berbeda. Secara garis besar konvergensi terdiri dari teknologi dan media (konten).
• Konvergensi teknologi terjadi ketika beberapa produk secara bersamaan berada dalam satu produk dengan segala keuntungannya.

 

 

 

Kesimpulan :
Dalam bab ini, saya telah menyajikan analisis Teori Menengah (atau Media-Ekologi) sebagai contoh utama analisis media kritis. Ini berpendapat bahwa isu teknologi harus berada di pusat media teori, karena sifat dasar teknologi media. Siapapun serius mencerminkan tentang mediasi sebagai suatu fenomena, harus memperhitungkan alam dan logika media yang berbeda. Media-Ekologi memberikan obat penawar yang kuat terhadap reduksionis asumsi bahwa Teknologi harus dipahami sebagai fasilitator, sebuahperangkat atau alat, dalam pelayanan dari sesuatu lain. Ini ‘sesuatu yang lain’ dianggap lebih mendasar dan, sebagai akibatnya, Proses mediasi dikurangi ke epiphenomenon. Sangat luar biasa, bahkan jika ini ‘sesuatu yang lain’ mengambil bentuk sosial, budaya atau proses komunikatif, akhirnya selalu politik yang tertinggi permukaan sebagai ‘kekuatan’ motivasi.
Sementara politik sama sekali tidak relevan, kasus telah dibuat untuk memahami media ‘seperti itu’, maksudnya, bukan sebagai instrumen atau alat, tetapi sebagai ‘agen’ sosial dan proses budaya. Heidegger (1977) pernah menyatakan bahwa “esensi teknologi mengungkapkan ‘. Tidak ada bisa lebih benar media-teknologi yang alasan keberadaannya persis bahwa mereka ‘mengungkapkan’ dunia, dengan mengubah kegiatan (pertemuan) menjadi ‘representasi’. Ini datang sebelum bunga tertentu dalam akumulasi kekuasaan atau kekayaan, misalnya. Namun, ini juga mengungkapkan spesifik ‘memesan’ atau ‘enframing’ dunia – di rasa ganda menyediakan struktur dan memerintah tindakan spesifik. Ini berlaku setiap media teknologi; meskipun media yang berbeda-teknologi yang berbeda akan memiliki (spatiotemporal) parameter tentang bagaimana mereka lahirkan dan enframe (yakni ‘order’). Namun, tanpa pemahaman fenomenologis generik teknologi media, perbedaan antara media yang berbeda dapat dengan mudah berlebihan sampai fetisisme. Medium Menggunakan Teori atau Media Ekologi telah menghasilkan tampilan teknologi media sebagai historis berkembang. McLuhan konsep tetrad adalah cara yang efektif menganalisis bagaimana media berevolusi dalam hal hubungan khusus antara media dan khususnya kepekaan. Memang, menghubungkan kembali ke Innis, yang tetrad dapat lebih operationalised untuk mengungkapkan bahwa evolusi media yang dibentuk oleh interaksi antara empat aspek: materi, bentuk, penggunaan dan know-how. Ini adalah artikulasi spesifik antara aspek-aspek ini yang menghasilkan teknologi khas mediasi.

 

by : subur siswanto

{09220291}

Beberapa fenomena yang tejadi di dalam perkembangan teknologi

Fenomena social comers

  1. Teknologi mempermudah pelayanan dan akses informasi
  2. Sebagai komplementer
  3. Munculya online shop( perdagangan virtual)
  4. Memperluas jaringan
  5. Pasar tradisional jadi tidak popular
  6. Membuat orang yang belum tahu jadi menjadi tahu
  7. Membuat orang yang awalya tidak ska sama media massa menjadi suka sama media massa

 

Fenomena” keong racun”

  1. Popularitas dan menjadikan seseorang lebih maju
  2. Untuk mencari penghasilan
  3. Media digital dan menjadikan media yang ngomong langsung(nyata)
  4. Bahasa persuasive secara tidak langsung( dalam teori devito)
  5. Informasi bisa disebar di dalam dunia maya
  6. Informasi digital – cara pandang luas bagi masyarakat

 

Fenomena “black swan”

  1. Mengungkap peristiwa logika
  2. Membuka cara pandang baru
  3. Teknologi menetukan arus informasi yang lebih besar dan bebas

 

Fenomena” internet dan demokrasi”

  1. Jejaring social mampu mempengaruhi proses demokrasi di Indonesia
  2. dapat mendorong dipromosikan politik segala aspek
  3. teori cultivitas “ penyebaran peran media tidak semuanya sampai ke objek/sasaran”




Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan Teknologi Informasi sangat mempengaruhi Teknologi Komunikasi. Teknologi Informasi dan Komunikasi seakan-akan tidak dapat dipisahkan, sehingga lahirlah istilah TIK(Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang sangat populer sekarang ini. Perpaduan keduanya semakin berkembang cepat dengan adanya media Internet. Teknologi Internet telah merubah cara orang berkomunikasi.

Email, menurut saya merupakan kunci utama perubahan cara berkomunikasi. Dengan hanya mempunyai satu alamat email, kita dapat mengikuti berbagai model komunikasi yang ada di Internet. Beberapa model komunikasi itu, diantaranya :
1. Forum
2. Milis/Group
3. Situs jejaring sosial
4. Blog
5. Situs sharing file
6. E-learning menggunakan teleconference

Mari kita bahas satu persatu keenam model komunikasi di atas.

Forum

Forum merupakan sebuah wadah diskusi online yang membahas tema atau topik tertentu. Beberapa situs portal atau website sebuah vendor produk, biasanya menyediakan fasilitas forum pada website mereka. Forum ini hanya dapat diikuti oleh pengunjung yang sudah terdaftar di web tersebut. Apabila belum terdaftar, pengunjung web forum, hanya dapat membaca hasil diskusi yang sudah ada, tapi mereka tidak dapat memberi komentar pada forum tersebut.

Form pendaftaran untuk menjadi member forum ini, biasanya mensyaratkan kita mengisikan alamat email, untuk verifikasi user dan password keanggotaan kita. Kode aktifasi biasanya dikirimkan via email.

Contoh web forum yang terkenal untuk para programmer Delphi di Indonesia adalah http://www.delphi-id.org. Di forum ini setiap member bisa membuat topik yang akan didiskusikan ataupun menjawab/memberi komentar atas topik orang lain.

Saya merasakan manfaatnya mengikuti forum ini. Terutama ketika kita mengalami kesulitan dalam kasus membuat program tertentu. Maka kita bisa menanyakannya melalui forum ini. Dengan kita memposting masalah kita di forum, pastinya akan banyak diantara member yang membaca dan memberikan solusi atas masalah kita. Pada forum Delphi ini, benar-benar postingan komentar/jawabannya diawasi oleh moderator, agar isinya tidak menyimpang dari tema forum ini yaitu pemrograman Delphi.

Namun ada beberapa forum yang isinya kurang bermanfaat. Misalnya forum yang ada di web portal detik yang kadang-kadang mengangkat topik yang kurang mendidik. Misalnya kalau tidak salah ingat, saya pernah membaca salah satu topik di forum detik yaitu ”Bagaimana perasaan anda saat ciuman pertama ?”. Saya kira topik tersebut kurang bermanfaat. Oleh karena itu, karena banyaknya forum yang ada, maka kita harus benar-benar pandai memilih dan tahu betul apa tema dan tujuan utama dari forum tersebut.

(Bersambung)